Aktualisasi Ngusabha Nini Masa Kini

AKTUALISASI NGUSABHA NINI MASA KINI

Nyoman Wijaya
Sejarawan, Universitas Udayana.
TSP Art and Science Writing | Kantor Sejarawan Profesional

Masyarakat Bali modern telah diwariskan suatu aplikasi konsep pelestarian alam, disebut dengan ngusabha, yang konon berasal dari kata “sabha”, berarti pertemuan. Maksudnya pertemuaan antara manusia dengan para bathara yang menangani masalah keduniawian. Salah satu diantaranya adalah Ngusabha Nini, yang berpusat di pura Ulun Carik tempat Dewi Sri, sakti Dewa Wisnu berstana. Kepada Dewi Sri, mereka tidak sekedar meminta perlindungan, tetapi juga mengucapkan terimakasih melalui suatu “perjamuan” yang dilengkapi sesajen dengan simbolnya masing-masing.

Boleh jadi tradisi ini sudah dikenal sejak manusia tidak lagi hidup nomaden, sudah membuka sawah ladang, yang diberikan makna sesuai konsep Hindu, bahwa manusia dengan sang penciptanya haruslah  satu kesatuan. Manusia tunduk pada alam, dan alam memberikan perlindungan, dan dilindungi oleh manusia. Karena alam yang sedang dilindungi adalah alam persawahan, maka penyelenggaranya secara niskala adalah bethara di Ulun Carik, dan secara sekala adalah kelian subak beserta perangkat dan anggotanya.

Dalam konteks masa kini, pertemuan tersebut mencerminkan adanya momentum ketika manusia sebagai mahluk sosial dengan segala keterbatasannya “berkomunikasi” dengan kekuatan di atasnya, yang tidak terjangkau oleh akal dan daya fisik. Kekuatan tersebut diyakini telah memberikan perlindungan dan pengayoman dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam hubungannya dengan kelahiran, kehidupan, dan kematian.

Dialektika kehidupan ini, haruslah harmonis, artinya manusia dapat dilahirkan dengan selamat, tumbuh dan berkembang secara wajar, dan kematian berlangsung secara alami, atas kehendak para dewa, bukan karena dibantai atau gerubug, gering atau penyakit menular yang muncul secara serentak atau kesalahan teknik dalam mengelola persawahan. Jika sesuatu telah berlangsung harmonis, maka tak perlu lagi diadakan pertemuan dengan para dewa, sebab tak ada bahan yang dapat dijadikan keluhan atau laporan.

Tetapi kenyataannya, keharmonisan sering kali hanya berada dalam angan-angan, sehingga ketika manusia membayangkan dirinya akan dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, tiba-tiba saja muncul banyak rintangan pada pengadaaan pangan, seperti misalnya gangguan alam, binatang, dan hama tanaman padi. Di masa kini, gangguan lebih banyak muncul karena keserakahan, misalnya penebangan hutan, pencurian batu kali, dan pengalihan fungsi tanah atas dasar kepentingan komersial belaka. Keserakahan kemudian menimbulkan kerusakan alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Siapapun yang mengalami hal itu akan kelabakan, kebingungan. Di zaman dulu orang-orang Bali-Hindu mengatasi kebingungan ini dengan cara meminta perlindungan dari para dewa, yang dalam hal ini diwakili oleh Dewi Sri, perwujudan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bentuk cinta kasih kesuburan. Tetapi masih perlukah hal yang serupa dilakukan oleh orang-orang Bali modern yang sudah jelas-jelas menuai bencana melalui keserakahannya. Akankah Ngusabha Nini mengandung daya efektivitas jika persoalannya sudah sesemberawut itu.

Ketika kearifan Dewi Sri telah digantikan oleh Dewi Teknologi dan lahan sawah sudah tergiring, dikapling menjadi lahan industri pariwisata, masih perlukah upacara Ngusabha Nini dilaksanakan. Secara riil, akan terjadi penyederhanaan, tidak lagi serumit dulu. Tampaknya, orang Bali-Hindu masih belum bisa melepaskan apalagi membuang upacara ini, karena sudah terpadu dengan kebudayaan Bali, terutama dalam hubungannya dengan upaya pelestarian hubungan antara manusia dengan sang pencipta, alam, dan sesamanya.

Upacara seperti ini telah menjadi ajang pertemuan, tempat manusia saling bisa berinteraksi, tetapi disisi lain akan timbul juga permasalahan baru, terutama bagi para urban yang hidup di sektor jasa, tidak lagi dalam pola agraris, namun secara fisik tetap berhubungan dengan masyarakat asalnya, karena masih memiliki dan terikat dengan desa adatnya. Akankah kita bisa memisahkan antara ngusaba untuk kepentingan pertanian dengan kesejahteraan desa. Bisakah seseorang yang tidak lagi sebagai petani dan anggota subak tidak aktif dalam upacara Ngusabha Nini.

Untuk itu, di tengah-tengah kemajuan peradaban ini, perlu kiranya menempatkan konsep upacara Ngusabha Nini dalam interpretasi masa kini. Konsep ngusabha telah mengajarkan, bahwa sesuatu tidak dapat digerakkan jika tidak dikaitkan dengan mekanisme, suatu sistem. Para dewa tidak akan mampu melaksanakan missinya, jika tidak ada manusia, dalam hal ini para petani, sebagai pihak yang mengerjakan, mengolah lahan. Sebaliknya, petani, tidak akan mampu membuat sesuatu tanpa keyakinan spiritual, bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah mengendalikan kehidupan, sekalipun samar-samar kekuatan itu telah terwujud dalam perangkat teknologi.

Konsep ini telah mengajarkan semacam sistem kabinet kerja, bahwa segala sesuatu hanya akan bisa dilakukan jika sudah berada dalam suatu koridor kerjasama, net work, antar berbagai bidang, semacam pendekatan holistik untuk memecahkan dan menganalisis suatu masalah. Berdasarkan hal itu, sesuai dengan kepentingan masa kini, konsep ngusaba harus diberikan interpretasi baru, sebagai suatu pendekatan baru dalam memecahkan persoalan, keagrarian, terutama persawahan.

Kemajuan sektor industri pariwisata di Bali, tidak akan ada artinya jika tidak ditopang oleh penataan sektor agraris persawahan. Industri parwisata harus dibangun atau didasari oleh penataan alam persawahan kyang bagus, dan inilah tantangan berat yang sedang dihadapi oleh Bali. Artinya di satu sisi, dia harus mampu membuat suatu paket pariwisata yang bagus, tanpa merusak alam. Padahal ada kecenderungan pariwisata selalu menggerus alam.

Kalau sudah demikain, berarti persoalan persawahan di Bali, sudah saatnya tidak lagi ditangani oleh perangkat subak semata, tetapi juga kepala pemerintahan, yang tentunya harus melibatkan dinas kepariwisataan, sesuai dengan konsep Ngusabha Nini yang melibatkan banyak dewa dan manusia.

Short URL: http://www.tspkantorsejarawan.com/?p=1166

Posted by on Dec 25 2012. Filed under Essay. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Visitor on this site